hidupku berkutat dalam kenangan
meski seratus tahun lagi ku jalani
meski mungkin terhenti di esok hari
aku masih hidup dalam kenangan
hidup pada masa lalu
banyak yang ku syukuri
tak kalah banyak tentang yang ku sesali
aku masih hidup dalam kenangan
enggan lepas belenggu masa silam
aku masih ingin direngkuh
aku masih ingin terbelenggu
menikmati semua indah
menikmati semua sakit
hingga kan seribu tahun lagi
aku rela terpasung dengan kenangan
kenangan di mana ada kau
yang tak segan memanjakan
bukan dengan kesombongan. sederhana.
yang melimpahiku dengan ketulusan
seseorang dalam kenangan
yang ku rindu dalam keabadian
kan ku rindu dalam keabadian.
sorot mataku tajam menghujam
coba merobek perisai jantung hati
yang tengah merengkuhmu tepat di sana
di rusuk yang sempat ku diami
dahulu.
tapi itu tak cukup
tak cukup membuatmu membiarkanku
menyentuhkan pedangku sedikitpun
kau sang maistro dari kenanganku
kau menjaganya dengan kilatan cinta yang membakarku
mengobarkan kembali kecemburuan
ketidak ikhlasan
ini kah dirimu kini, wahai kenangan
tak lagi mengenaliku dari masa sejuta tahunmu
kau hanya merengkuhnya
menaunginya penuh cinta
cinta yang bahkan lebih besar dari jutaan windu lalu
menatapku dengan sekat
seorang yang kau pandang dengan permusuhan
ku lihat senyum wanita yang masih memelukmu itu
ku lihat bukan senyum keangkuhan
karena menang telak atas hatimu
tapi yg ku saksikan, ia tersenyum
penuh syukur karena kau memilihnya
atas dasar tingginya tahta cinta
aku lemah
ragaku ternyata telah lama mati
aku tak lagi dapat sekedar menyentuhmu
cintaku dalam ruh yang tadinya masih ku rasa hidup
masih bisa berharap
kini mati. ku bunuh sendiri.
kendati kenangan itu masih saja abadi.